Sunday, July 25, 2010

langkah kaki terhenti di depan tanah lapang
dimana kita pernah bercanda dan tertawa
dimana pertama kita mengenal lebih dekat
dan dimana saat rasa itu ada

tergores senyum di bibir saat angin mengehntikan denyut nadi
mengingat semua butir kata yang tertumpah di sela perbincangan kita
mengingat semua kisah pilu yang meremukan hati
mengingat dimana dulu ada engkau duduk di sampingku

tangan tak berhenti menghapus butiran air mata yang jatuh saat aku mengingat engkau
aku ingat dimana engkau tersenyum padaku, dan menghapus kesedihanku
aku ingat dimana engkau menuturkan kata yang melelehkan sekujur tubuhku
aku ingat dimana engkau berlaku manis sebelum engkau berlaku seperti sekarang

duduk terdiam dibius kenangan masalalu
kenangan indah antara aku dan dia
kenangan manis sebelum berpisah
kenangan yang tak pernah ku lupakan

walau aku mengerti, dan aku terima bahwa....
yang engkau ingat adalah dia
yang engkau sayang adalah dia
yang engkau impikan adalah dia
yang engkau pandangi adalah dia
iya.... dia... dia segalanya untukmu...
entah sampai kapan itu tetap dia...
entah kapan itu adalah aku....
besok? atau.... tak akan pernah?

Sunday, June 20, 2010

aku terjaga pada malam sepi dan semua terlelap dihempas keletihan..

mataku terjaga menjaga bintang yang bertebaran di langit luas..


langkah kaki seseorang membuat hati meringkuk..

dan seorang lelaki tersenyum dan singah di hadapanku..


kami bercerita dan bersenda gurau memecah keheningan malam...

sesaat bibirnya terpaku membisu menatap langit luas

ku tanyakan mengapa ia terdiam melamun


ia bercerita luas tentang cinta dan angan anganya.. tentang sang pujaan hati..

mataku terjaga mengawasi setiap gerak bibirnya, agar tak satupun kata terlewat ku dengar..

ia bercerita tentang hatinya yang patah karena sang pujaan hati..

ia menceritakan sosok sang putri.. sosok yang ia cintai..


aku termenung dalam lamunan...

betapa beruntungnya sang putri yang dicintai dirinya..

setiap kata yang terucap dan setiap lirik kata yang tersiram, semua berisi tentang sang putri..

aku hanya berharap bahwa sahabatku ini akan mendapatkan hati sang putri...

Aku terdiam dibawah lamunan nyanyian jangkrik
dan seruan angin yang menyapa pada dunia malam

Aku bertanya pada angin semilir...
Dimana ia?
Aku merindukannya
aku merindukannya dengan setiap detak pada jantung ini,
dengan setiap detik pada keabadian


Taukah ia aku disini membisu merindukanya?
Tau kah ia aku disini mati perlahan merindukannya?
dalam dunia aku menunggu
diantara senja merah dan malam biru
hingga raga ini menyelam dalam tanah


Ragaku tergeletak lemas menahan rasa perih,
dan menunggu engkau menyadari
Kapan? Esok hari? Esok lusa? Atau tak selamanya?
mungkin dalam sana, dalam mimpi malam tadi
yang selalu terulang dalam sayatan hati ini

Aku merindukanmu
hingga ia menari bersama rembulan
dan membawanya dalam pelukan
Kembali ke ragaku...
Dan diam bersamaku...
Hingga malam berakhir

dan mentari tak akan bersinar lagi...


Karya : Fernando Diroatmodjo & Sella Palar

Biarkan

biarkan aku kembali ke masa itu, saat aku tertawa lepas tanpa ada panah menganjal..

biarkan aku mentap langit dan melihat bintang, seperti saat waktu aku bersamamu..

biarkan aku ternsenyum, seperti saat cerlingan wajah menatap tajam ke arahku dan mengetarkan hati...

biarkan aku terdiam, seperti saat engkau membius nadi dan menghentikan detakan jantungku..


biarkan... biarkan aku mengulang sekali saja kebahagiaan itu..

biarkan hatiku merasakan lagi hangatnya cinta...


maukah kau membiarkan aku mengulang sekali saja?

apa? tidak?

tak lihatkah kau hatiku yang tersayat robek karena tusukan belatimu?

hatiku terluka menjadi kepingan... menjadi serpihan lebih tepatnya karena ENGKAU!

masih kau tak membiarkan aku? kejam....


akan ku tutup buku ini dan kuhanyutkan di pelataran gerbang pembuangan sampah, dan ku biarkan ini menjadi kenangan yang pahit...

Thursday, June 17, 2010

merindukan mu

langit tampak gelap layakmya hati yang gelap karena ditinggal sang kekasih
tatapan kosong seakan tak melihat
hanya suara jangkrik berpasangan menemani keheningan malam

dimana engkau? dimana?
tak tahu kah engkau apa yang kurasakan sekarang?
tak mengertikah hatiku meronta merindukanmu?

mengapa engkau meninggalkanku tanpa jejak?
kemana aku harus menelisik jejak kakimu?
tanah mengering menghilangkan jejak kaki mu

tak tahukah aku disini menunggumu untuk kembali?
tak mengertika engkau bahwa aku merindukanmu?
tak tahu kah apa yang aku rasakan sekarang?

kapan? kapan engkau mengerti?
kapan engkau mrasakan apa yang ku rasakan?
perlukah aku berteriak di hadapan wajahmu sehingga engkau mengerti?
perlukah aku menuliskan seribu kata agar engkau percaya aku merindukanmu?

kembali... kembali padaku..
hati ini tergores perih karena merindukanmu..
jiwa ini hampa tanpamu...

aku ingin berteriak memanggil namau
aku ingin meronta karena tak sanggup memendam ini
tak mengertikah engkau??

entah engkau mengerti atau tidak...
yang ku harap kau kembali dan diam disisiku
mengisi setiap halaman hari hariku
aku terdiam dibawah gemerlap mintang malam
tampak sunyi, hanya ada bola lampu yang menerangi
sunyinya malam menghentikan detak jantung
angin berbisik meniup kearah wajah yang kusam

tak.. tak.. tak..
dentuman langkah kaki dari sebelah badan
ia mendekat dan hingap disamping menemani keheningan malam
bibirnya mengoreskan percikan tawa, dan alunan kata katanya bagai menghentikan nafas

waktu serasa bertedak kembali, dan bulan seakan bersinar
kutipan lelucon dan cerita lucu membuat bibir tak dapat berhenti tertawa
sekan aku tak ingin hari ini berakhir

dan prak... badan terasa terhempas angin jalanan
ternyata kebahagiaan itu hanya dalam mimpi
aku menangis karena tersadar bahwa ini bukan kenyataan
tapi paling tidak aku mendapatkan mimpi yang indah